Rasch Model: Riset Kuantitatif

Home » Facets » Roadshow Pelatihan Rasch Model di berbagai universitas-6 (2014)

Roadshow Pelatihan Rasch Model di berbagai universitas-6 (2014)

Setelah pindah tempat kerja di Kuala Lumpur, mengajar di Universiti Malaya, tepatnya di Institute of Educational Leadership, kegiatan pelatihan rasch model di Indonesia pun terhenti. Yang berikutnya dilakukan adalah melakukan pelatihan di tempat kerja tersebut, baik terhadap mahasiswa S2 dan S3 maupun dosen. Namun saat yang sama ada beberapa email yang datang yang meminta untuk memberikan kuliah umum maupun pelatihan rasch model. Berhubung lokasi dan rutinitas kerja maka yang paling bisa dilakukan adalah adanya permintaan resmi untuk itu supaya bisa mendapat ijin melakukan kegiatan yang diminta dari atasan disini.

Berbagai kegiatan yang dilakukan di bawah ini merupakan yang dilakukan dalam jarak waktu yang berdekatan, yaitu di bulan September (Surabaya dan Bandung) dan November (Semarang, Yogya, Malang, Jember dan Surabaya). Seperti biasa banyak pengalaman baru didapat dan membuka wawasan tentang kegiatan riset yang dilakukan di berbagai universitas.

1. Universitas Tujuhbelas Agustus, Surabaya: Rabu-Kamis 3-4 September 2014

Kegiatan di Untag sebelumnya sudah dipesan jauh-jauh hari dengan bu Niken, dosen Fak Psikologi Untag, saat pernah bertemu dalam kegiatan seminar psikologi di UMS, Solo pada bulan Mei 2014 lalu. Acara resminya adalah kegiatan HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) wilayah Jawa Timur, seperti yang muncul di website-nya yang diadakan di Untag. Berhubung banyaknya peminat, khususnya yang dari luar Surabaya, maka peserta yang hadir total mencapai enam puluh orang yang kebanyakan adalah dosen (yang sebagian mereka sedang menempuh pendidikan S3 di univesitas lain).

Selalu ada hal yang mengejutkan, salah satunya ketemu teman lama yang pernah sama-sama kuliah di Flinders University, Australia, yaitu mbak Evy maupun rekan sejawatnya, mas Nino (Anindito), yang merupakan dosen dari Universitas Surabaya. Saat selesai acara pelatihan siang hari, malamnya ketemu dengan beberapa dosen dari berbagai unievrsitas yang sedang studi S3 di Unair,  khusus membicarakan riset yang mereka lakukan dan diskusi tentang metodologinya.

Pelatihan dua hari memang hal yang disarankan supaya perspektif rasch model bisa dipahami dengan baik dari sisi teoritis sampai praktek analisisnya dengan software. Dengan dua hari juga latihan dengan beragam jenis data bisa dilakukan, disamping memperkenalkan uji multi rater dan software facet untuk analisisnya. Hal yang menantang dan memerlukan diskusi lebih panjang penjelasannya adalah tentang jenis data dan ketepatan model analisisnya. Tentu bagi yang baru merasa aneh kenapa data ordinal  yang berbentuk angka tidak bisa dilakukan operasi aritmatika, argumen yang jadi rujukan selalunya ke MSI lagi; tentu perlu telaten untuk menjelaskan bahwa secara metodologis MSI memang sudah menggunakan fungsi yang tepat yaitu probabilitas dalam mencacah respon dari data ordinal yang didapatkan dari responden, namun saat index dari masing pilihan didapat “uniknya” kenapa harus dikembalikan pada angka rating awal, padahal angka ordinal awal tersebut tidak menunjukkan skala dan interval yang sama. Diskusi lain yang selalu menarik adalah, apa yang perlu dilakukan bila data logit didapatkan, khususnya bila akan melakukan uji statistik inferensial? Untuk hal ini tentu balik lagi menjelaskan bahwa tergantung pertanyaan riset yang akan di jawab, bila memang perlu uji inferensial maka penggunaan data logit bisa digunakan sesuai dengan konstruk yang ada.

foto kegiatan:

Untag2 Untag1

2. Jurusan Peneltian dan Evaluasi Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta: Selasa, 9 September 2014

Melalui bu Rina, pegawai di LPMP Jawa Barat  yang sedang studi S3 di UNJ, beliau memanfaatkan slot satu hari saat ada di Bandung dengan menggunakannya untuk pelatihan rasch model. Awalnya memang untuk para mahasiswa saja, namun ternyata yang berminat hadir malah dosen-nya. Tempat pelatihan  dilakukan di P4TK IPA Bandung.

Berhubung peserta berasal dari jurusan evaluasi pendidikan yang sudah akrab dengan teori tes klasik (CTT) maupun teori respon butir (IRT), maka berbagai penjelasan tidak begitu menantang untuk menjadi bahan diskusi lebih lanjut. Hal yang dinanti adalah praktek analisis dengan software Winsteps, yang ternyata memang jarang digunakan. Saat menjelaskan hasil perhitungan software dan ilustrasi dalam bentuk item-person map maupun skalogram, peserta dengan mudah memahami bahwa software yang digunakan memang bisa memberikan info yang lebih jelas dan lengkap sehingga analisis yang dihasilkan lebih kuat argumentasinya.

Pada sesi diskusi lebih lanjut, terjadi permintaan penjelasan bagaimana pemodelan dari hasil dilakukan. Tadinya tidak begitu memahami maksud pertanyaan, namun disadari bahwa pertanyaan memang berasal dari paradigma yang biasa dianut. Dalam konteks CTT maupu IRT PL2 dan PL2 fungsi dari model adalah untuk bisa menjelaskan data, sehingga bila data tidak sesuai dengan model maka model lain yang bisa menjelaskan data secara lebih baik digunakan. Apa yang dilakukan? tidak lain adalah menggunakan uji korelasi dan faktor analisis untuk mengidentifikasi mana aitem yang tidak bagus untuk dihapus, untuk kemudian dilakukan pengelompokkan ulang pada konstruk/dimensi yang ada dengan berbagai teknik analisis seperti rotasi dengan batas penerimaan  nilai Eigen lebih dari satu. Hal seperti ini memang umum khususnya digunakan dalam CTT, biasa disebut pengelompokkan aitem dalam konstruk yang baru tersebut adakah temuan yang berbeda dan punya nilai ilmiah yang unik (hasil penelitian). Riskannya adalah, aitem-aitem yang sudah disusun dalam pengelompokkan konstrak/dimensi kemudian dimentahkan karena memang data tidak sesuai dengan model, sehingga dicari model baru (baca: pengelompokkan aitem dalam dimensi yang baru) yang bisa menjelaskan data secara lebih baik.

Sedangkan dalam rasch model, pengelompokkan ulang aitem tidak diperlukan, karena model digunakan sebagai kerangka referensi; sehingg bila memang data tidak sesuai dengan rasch model maka data perlu di uji dan dijelaskan kenapa hal itu terjadi (bukan menjadikannya harus sesuai dengan model baru). Hal ini menunjukkan paradigma yang berbeda dalam melihat data, dimana rasch model (IRT PL1) tidak seperti yang lain yang ‘memaksakan’ data harus sesuai dengan model, namun berfungsi sebagai alat mementtukan kualitas data dan diagnostik-nya.

foto kegiatan:

UNJ2 UNJ1

3. Universitas Negeri Semarang, Semarang: Minggu, 9 November 2014

Pak Toto Raharjo teman guru saat masih bertugas di Lombok yang saat ini sedang kuliah lagi di Unnes, Semarang, merancang dan menyelenggarakan pelatihan rasch model di kampusnya. Peserta sebanyak 30 orang adalah para mahasiswa dari jurusan supervisi pendidikan yang semuanya adalah guru-guru dari berbagai pelosok tanah air yang tugas belajar di Unnes.

Menjelaskan rasch model pada para guru dalam konteks riset dan jenis data seperti halnya dengan yang lain yang agak mengagetkan saat dijelaskan keterbatasan jenis data ordinal untuk analisis; namun saat menjelaskan bagaimana rasch model diterapkan untuk analisis kemampuan kognitif dari suatu hasil test belajar maka langsung nyambung. Para guru menyadari secara langsung keterbatasan analisis yang biasa digunakan (walau tidak tahu bahwa hal itu menerapkan CTT), apalagi software yang dipakai masih sama selama dua puluh tahun ini yaitu iteman [hal yang tidak menyangka bahwa software itu masih populer digunakan untuk analisis data hasil test, microsoft windows saja sudah mengalami berbagai evolusi]. Menggunakan software yang menerapkan rasch model terlihat dengan mudah untuk analisis dan pengambila kesimpulannya.

foto kegiatan:

Unnes2 Unnes1

4. Fak Psikologi, Universitas Diponegoro, Semarang: Senin, 10 November 2014

Bu Ika Zenita untuk kali kedua ini menjadi contact person untuk kegiatan pelatihan rasch model di fakultas psikologi Undip. Selain untuk dosen-dosen Undip, juga diundang dosen psikologi dari universitas lain yang ada di Semarang yaitu dari Univ PGRI dan Univ Islam Sultan Agung. Juga turut serta teman chating semenjak saat masih di Selandia Baru dulu yang sekarang menjadi dosen di Unnes: Mas Cahyo.

Berhubung audiens-nya psikolog maka diskusi lebih terfokus dalam hal pengukuran (psikometri). Diskusi tentang jenis data selalu menantang untuk terus dielaborasi, karena memang itu yang banyak menjadi isu dalam analisis data; diskusi paradigma pengujian model selalu menjadi isu hangat tentang kegunaan faktor analisis dalam penyesuaian data supaya cocok dengan model (dalam konteks CTT) dibandingkan dengan paradigma rasch model. Hal menarik lainnya adalah uji multi-rater yang bisa mengungkap konsistensi penilai, sesuatu yang juga menunjukkan potensi riset ke depan.

foto kegiatan:

Undip1 Undip2

5. UIN Walisongo, Semarang: Selasa, 11 November 2014

Pak Hamdan dari Fakultas ilmu tarbiyah dan pendidikan UIN Walisongo Semarang mengontak sejak dua bulan sebelumnya tentang kesediaan menjadi pembicara utama di seminar pendidikan dan sains di Semarang. Temanya tentang unity of sciences, ada dua pembicara lain yang memang diundang untuk argumentasi hal ini, saya sendiri kebagian menjelaskan tentang metodologi riset dan pendekatan rasch model yang dijadikan topiknya.

Berbicara di seminar dengan waktu hanya 30 menit, bagusnya memang hanya membicarakan isu utama tentang pengukuran dalam sains (ilmu pengetahuan alam) dan bagaimana hal itu diterapkan dalam sosial sains (ilmu pengetahuan sosial). Maka kualitas instrumentasi dalam sains yang perlu dijelaskan dengan lengkap, dimana sutau instrumen yang valid dan reliabel kualitasnya, paling tidak ada empat syarat, yaitu: a) punya titik tolak awal (biasanya nol mutlak); b) skala yang linier (garis lurus); c) intervalnya sama (jarak sama); d) mempunyai satuan (ada unit). Bila berbicara dalam hal ini maka sains adalah rujukan yang tidak terbantahkan, misalnya penggaris, maka diawali dari titik nol (titik awal), yang panjangnya adalah 0 cm (mempunyai unit), yang memanjang dengan garis lurus (linier), dengan jarak dalam skala-nya sama (panjang 4 cm adalah dua kali dari 2 cm).

Ilmu sosial yang banyak meminjam alat dari disiplin psikologi, tentu kesulitan menyaingi kualitas pengukuran seperti dalam sains (khususnya fisika) tadi. Hanya dengan rasch model lah kualitas pengukuran dalam sosial sains bisa ditingkatkan kualitasnya. Karena dengan pengolahan data mentah melalui odd probabilitas dan ditransformasikan dengan logaritma akan dihasilkan, skala logit (unit) dengan jarak yang sama (equal interval), yang merupakan garis lurus (linear) yang mempunyai titik tolak (nol logit).

Pada sesi tanya jawab yang muncul adalah komentar bagaimana validitas diukur dan ditentukan, dimana konsep validitas kualitatif maupun kuantitatif (empirik) dijelaskan. Pertanyaan lain adalah mengenai ukuran populasi dan sampel untuk pengujian instrumen, dimana rasch model tidak melulu berdasarkan keragaman, namun juga berdasar ketepatan ukuran logit yang dijadikan rujukan.

Walisongo1 Walisongo2

6. Fak MIPA UNY, Yogyakarta: Kamis, 13 November 2014

Tidak seperti pelatihan sebelumnya, kali ini peserta adalah mahasiswa S1 pendidikan IPA yang belum pernah melakukan penelitian ilmiah. Fokus pembicaraan juga lebih sempit pada desain instrumen riset dan bagaimana rasch model bisa digunakan untuk meningkatkan kualitasnya.

Topik yang dibahas meliputi konteks riset kualitatif dan kuantitatif, dimana untuk kuantitatif diperkenalkan cara mendapat angka melalui tes kognitif maupun angket (kuesioner). Tidak lupa juga untuk mulai dengan identifikasi jenis data yang didapatkan, kemudian bagaimana menyusun kuesioner yang baik (pengacakan item, banyaknya pilihan, unfavorable statement dll). Rasch model adalah langkah selanjutnya dalam konteks pengujian instrument dalam tahapan pilot-test, sehingga nantinya hasil analisis bisa digunakan untuk meningkatkan relibilitas dan validitas instrumen.

tautan web kegiatan berbarengan di UNY: http://uny.ac.id/berita/prodi-s2-psn-gelar-workshop-penulisan-artikel-jurnal-internasional.html

7. Fak Psikologi, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta: Sabtu, 15 November 2014

Peserta pelatihan rasch model di Untag pada September lalu terdapat tiga orang dosen fakultas psikologi UII Yogya. Salah satunya adalah Pak Susilo yang berpesan bila mampir ke Yogya untuk memberitahu beliau untuk bisa berbagi dengan staf dosen lain di UII. Beliau juga salah satu yang aktif menggunakan rasch model untuk pengujian instrumen pada penelitiannya.

Disamping berbagi tentang rasch model, penggunaan software winsteps, juga terlibat diskusi menarik tentang pemanfaatan alat analisis ini dalam bidang disiplin lain khususnya yang berhubungan dengan pegujian kognitif.

UII

Tautan dari wesbite UII: http://fpscs.uii.ac.id/home/989-prodi-psikologi-kaji-pendekatan-rasch-

8. Fak Psikologi, UIN Maliki, Malang, Senin-Selasa, 17-18 November 2014

Kegiatan pelatihan di UIN Malang ini tadinya adalah kegiatan HIMPSI Jawa Timur, namun pihak UIN lah yang berinisiatif menyelenggarakan secara full dua hari, juga atas bantuan mas Ribut Wahyudi yang menghubungkan ke dekan fakultas psikologi. Peserta adalah dosen psikologi dari UIN Malang disamping dari universitas lain di Malang, serta mahasiswa pasca sarjana. Informasi dari website fakultas psikologi UIN Malang ada disini.

Acara pelatihan menjadi menarik karena dari awal beberapa dosen menyatakan bahwa mereka lebih memilih pendekatan kualitatif dibanding otak-atik angka. Informasi ini menjadi menarik untuk bisa menampilkan kekuatan analisis kuantitatif dengan cara pandang kualitatif melalui pendekatan rasch model; diskusi pun menjadi enak dan bersambut karena saat menerangkan berbagai aspek (jenis data, isu validitas, realibilitas instrumen, jumlah sampel dll), maka pandangan dosen yang memilih kualitatif sebagai pendekatan, selalu dimintai pendapat tentang apa yang dijelaskan.  Peserta lain pun menjadi lebih paham konteks pendekatan kuantitatif (analisis rasch model) dalam pandangan peneliti kualitatif [hal yang sama pernah saya alami sebelumnya saat memberikan pelatihan di UIN Jakarta]

UIN Maliki1 UIN Maliki2

tautan dari website UIN Malang: http://psikologi.uin-malang.ac.id/?p=2396

9. Fak Pendidikan dan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Jember, Jember: Rabu-Kamis, 19-20 November 2014

Kegiatan dua hari di Universitas Jember hanya memberikan kuliah umum, yaitu di fakultas pendidikan dan satu lagi di fakultas kesehatan masyarakat.  Fokus kuliah umum pun berbeda, di fakulti pendidikan adalah penggunaan rasch model untuk penilaian dan evaluasi pendidikan; sedangkan di fakultas kesehatan masyarakat adalah untuk analisis data kuesioner yang biasanya menggunakan peringkat likert.

Saat di fakultas pendidikan Unej, diskusi berlangsung tentang kekuatan dan kelemahan penilaian skor, baik secara manual yang merepotkan, maupun analisisnya dengan software (yang juga berabe). Melihat bagaimana analisis dengan rasch model dilakukan juga dengan software, peserta menyadari bagusnya alat analisis yang bisa membantu untuk memberikan kesimpulan yang lebih tepat dan  terpercaya.

Saat di fakultas kesehatan masyarakat, diskusi lebih banyak membahas tentang jenis data dan prosedur yang bisa dilakukan dengan jenis data yang didapatkan. Beberapa merasa heran dengan hasil analisis yang diberikan melalui software yang bisa memprediksi jawaban responden dengan lebih tepat dan bisa dibandingkan dengan mudah karena memang mempunyai unit dan interval yang sama.

tautan website LP3 Unej: http://lp3.unej.ac.id/kegiatan-lp3/

Di Fakultas Pendidikan Unej

Unej2   Unej1

di Fakultas Kesehatan Masyarakat Unej

Unej3

10. Jurusan Statistika FMIPA, Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya: Jumat, 21 November 2014

Kegiatan terkahir adalah kuliah umum di jurusan statistika ITS, Surabaya yang rancang oleh pak Hartono. Diselenggarakan dua kali, yaitu pagi hari untuk mahasiswa S1 dan sore harinya untuk mahasiswa S2 dan S3. Konteksnya adalah rasch model dalam statistik sosial, dimana data yang diolah adalah jenis ordinal. Bila memerlukan makalahnya bisa di download di website academia.

Diskusi yang panjang terjadi dengan mahasiswa pascasarjana, dimana mereka langsung menyadari kegunaannya untuk riset yang sudah/akan mereka lakukan. Penjelasan tentang pembuatan skala logit menjadi bahasan yang menarik karena mendapati hal tesebut belum pernah diketahui sebelumnya. Mereka pun melihat potensi yang bisa digunakan dalam pengujian instrumen dari yang biasa dilakukan melalui CTT hanya dengan bekal indeks reliabilitas saja.

ITS


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: