Rasch Model: Riset Kuantitatif

Home » Penelitian » Konsepsi Pengukuran dalam Rasch Model

Konsepsi Pengukuran dalam Rasch Model

Pengalaman keliling berbagai kampus di Pulau Jawa (bisa dilihat di beberapa artikel di blog, ini seri terakhir) memberikan input yang berharga, salah satunya adalah adanya pertanyaan mengenai seperti apa konsepsi pengukuran dalam teori respon butir (items response theory atau IRT) dan Rasch Model (yang merupakan salah satu cabang dari IRT). Menjelaskan hal ini dalam pelatihan memang perlu waktu cukup banyak dan juga peserta perlu membaca rujukan yang relevan tentang hal itu. Cara lainnya adalah dengan menuliskan hal itu di blog ini secara lebih sederhana, supaya bisa lebih mudah dipahami dan dihubungkan dengan artikel yang ada di blog ini ataupun yang sudah membaca buku Rasch Model. Titik tolak yang bisa menjadi rujukan yang bagus dalam konsepsi pengukuran ini adalah bukunya Mark Wilson yang berjudul “Constructing Measures: an item response modeling approach” yang terbit tahun 2005 oleh penerbit Lawrence Erlbaum di New Jersey, Amerika (bila ingin tahu beliau silahkan lihat website-nya disini), bukunya bisa dibeli di Amazon (silahkan lihat tautan-nya disini). Mark Wilson menjelasan konsepsi pengukuran dalam konteks IRT ini ke dalam empat bagian besar yang dia sebut “four building blocks“, yaitu peta konstruk (construct maps), disain aitem (the items design), ruang hasil pengukuran (the outcome space) dan model pengukuran (the neasurement model). Setiap bagian yang dia sebut memberikan definisi dan konteks yang jelas seperti apa konsepsi pengukuran yang digunakan; diberikan secara bertahap dari sisi konseptual dan praktis yang akan memudahkan orang awam sekalipun untuk memahami hal ini. Oleh karena itu, setiap bagiannya akan dibahas secara terpisah dalam seri artikel yang akan diposting di blog ini.

Namun sebelum menjelaskan four building blocks dari Wilson ini, juga perlu dijelaskan beberapa istilah dasar supaya bisa mempunyai titik tolak yang sama dalam pemahanan hal ini. Yang pertama adalah penjelasan apa itu instrumen dan kemudaian diskusi mengenai defisini pengukuran yang biasa dirujuk dan apa konsekwensinya dari definisi yang digunakan tersebut. Dalam riset kuantitatif pada ilmu-ilmu sosial, maka alat yang digunakan untuk mendapatkan data disebut sebagai instrumen riset. Per definisi, instrumen adalah alat atau cara/teknik yang menghubungkan apa yang kita amati dari dunia nyata (observasi) kepada sesuatu yang kita ukur yang sesungguhnya hanya terdapat dalam teori yang bersifat intagible (kadang juga disebut hal yang tersembunyi/latent). Definisi instrumen ini lebih luas daripada sekedar mendapatkan ‘angka’ dari deretan aitem pernyataan atau pertanyaan yang diajukan kepada responden oleh peneliti.  Konteks ini digunakan untuk memberikan wawasan yang lebih luas dalam aspek pengukuran dimana lokasi aitem atau pertanyaan yang dibuat nantinya dalam kerangka peta konstruk yang dibentuk. Dengan cara ini maka cara pandang bahwa instrumen sekedar untuk mendapatkan data dari responden tidak harus dipaksakan yang mereduksi pola pikir dan disain riset yang menganggap bahwa bila angka sudah didapat maka ‘kebenaran’ sudah di depan mata.

Defisini yang perlu panjang lebar didiskusikan adalah mengenai pengukuran. Definisi yang sangat populer tentang pengukuran didapat dari Steven yang dikemukakannya pada tahun 1946, yang mengatakan bahwa pengukuran adalah ‘pengukuran adalah menempatkan angka (nomor) kepada objek atau kejadian sesuai aturan yang ditetapkan’. Definisi pengukuran yang ‘plastis’ begitu ini sangat meluas dipergunakan, tidak hanya dalam ilmu psikologi namun juga dalam ilmu sosial lain seperti pendidikan, ilmu komukasi, pemasaran dll. Malah kalau membaca buku psikometri, pengukuran pendidikan ataupun metodologi riset di Indonesia, maka definisi ini adalah sajian wajib yang tidak pernah berubah semenjak disebutkan oleh Steven ini. Malah hasil riset Michell (1997) yang mendata buku teks psikologi di Eropa menemukan bahwa 92 dari 94 buku teks yang masih tetap menggunakan definisi ini. Tentu definisi Steven ini banyak dikritisi dan berbagai alternatif lain diketengahkan. Namun yang paling fundamental kritiknya dan mengubah arah ilmu psikometri dikemukakan oleh Michell. Dia menyebutkan bahwa, untuk memenuhi syarat bahwa hal tersebut memang mengukur, maka atribut yang diukur haruslah bersifat kuantitatif; yang kedua secara instrumental prosedur penentuan untuk estimasi angka yang didapatkan menunjukkan besarannnya [measurement is the numerical estimation and expression of the magnitude of one quantity relative to another]. Definisi dari Michell ini memperjelas (atau mengubah secara mendasar) hubungan antara sifat angka yang yang ditempatkan pada objek dan kejadian yang diamati.

Pada dasarnya sifat angka yang didapatkan juga menjadi sifat dari pengukuran yang dihasilkan. Jenis data yang didapat kan memang bisa berbentuk nominal, ordinal, interval atau rasio. Dalam hal ini kira harus berhati-hati, bahwa walaupun angka yang didapat memang menunjukkan besaran, misalnya “2”, namun itu tidak selalu mempunyai sifat yang sama dalam pengertian bilangan bulat (misalnya untuk kategori jenis kelamin, laki-laki = 1, dan perempuan = 2; maka angka “2” pada jenis kelamin yang ditetapkan dari hasil observasi tidak serta merta menunjukkan hal itu lebih besar dari “1”, ini hanya pembeda saja, data jenis nominal). Bila merujuk ke definisi Steven, maka kita bisa tidak berhati-hati tentang jenis data yang didapatkan, hal ini berhubung apapun bisa dijadikan angka asal sesuai aturan yang ditetapkan; namun bila merujuk pada definisi Michell, kita harus memastikan bahwa hal itu memang jelas bisa diukur (seperti sifat dalam fisika, misalnya panjang, berat, suhu dll); yang kedua besaran yang didapat memang menunjukkan banyaknya. Hal ini tentu akan membuat hasil pengukuran yang sifatnya latent (tersembunyi) tentu tidak serta merta bisa mudah dijawantahkan, misalnya kecerdasan, agresivitas, percaya diri dll. Dengan menggunakan definisi yang lebih tepat dari Michell, tentu kita akan lebih teliti dalam hal tujuan utama dari pengukuran, yaitu untuk memberikan cara yang masuk akal dan konsisten untuk merangkum jawaban dari responden dalam berbagai aspek yang diukur. Misalnya kita mau melakukan interpretasi dalam hal skala sikap, test kecerdasan, skala psikologis tertentu dari responden; dimana hasil yang didapat tentu akan digunakan sebagai bahan untuk membuat keputusan. Oleh karenanya hal ini menunjukkan begitu sentralnya definisi pengukuran dalam konteks teori respon butir (IRT). Berbagai seri tulisan berikutnya akan menjelaskan lebih lanjut konsepsi pengukuran dalam teori respon butir seperti yang dijelaskan oleh Mark Wilson yang disebutnya ‘four building blocks‘.


1 Comment

  1. […] sudah dijelaskan sebelumnya dalam artikel tentang konsepsi pengukuran, ada empat bagian yang menjelaskan hal itu yang meminjan konsep dari Mark Wilson. Yang akan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: