Rasch Model: Riset Kuantitatif

Home » Pelatihan Rasch Model » Roadshow Pelatihan Rasch Model di berbagai universitas-5

Roadshow Pelatihan Rasch Model di berbagai universitas-5

Tulisan ini adalah penutup dari laporan kegiatan roadshow yang dilakukan selama lebih dari tiga bulan lebih di berbagai perguruan tinggi di Pulau Jawa.  Tiga universitas di dua kota mengundang untuk acara pelatihan di kampusnya, dua perguruan tinggi malah mengundang untuk kedua kalinya (UPI dan ITB). Tidak lengkap memang bila tidak melaporkan kegiatan yang dijalani.

15. Fakultas  Psikologi Universitas Diponegoro, Semarang; Rabu, 19 Maret 2014

Berdasarkan pertemanan dengan penulis kedua buku dan berita pelatihan rasch model di universitas lain via facebook, bu Ika Zenita dosen di Fakultas Psikologi Undip mengontak untuk acara pelatihan ini. Tadinya kegiatan akan dilakukan bulan Februari, namun  tidak bisa dilakukan karena ada beberapa halangan; sampai akhirnya disepakati untuk pertengahan Maret 2014 saja. Pelatihan di Undip ini juga merupakan pelatihan ketiga yang khusus diadakan oleh jurusan/fakultas psikologi selain yang di UPI dan Unair.

Pelatihan yang dilakukan merupakan hari Rabu ternyata yang biasa digunakan untuk acara rapat fakultas, pertemuan untuk pelatihan intern, dan urusan konsolidasi internal lainnya. Tidak aneh bahwa hampir semua dosen (sekitar 30-an lebih) bisa hadir, terlebih ruangan pelatihan yang sifatnya strategis, yaitu di belakang ruangan dekan fakultas. Seperti yang biasa ada di fakultas psikologi, dosen peserta pelatihan mayoritasnya adalah perempuan. Juga seperti pelatihan di tempat lainnya, ini jadi ajang promosi dan penjualan buku rasch model ke peserta pelatihan (dimana buku memang dipunyai oleh penerbit dan saya memang bertugas sebagai salesman buku).

Acara pelatihan, sesuai permintaan, memang didisain khusus untuk disiplin ilmu psikologi, dimana diskusi tentang jenis data, pengukuran, disain instrumen menjadi hal yang menarik bagi mereka karena memahami psikometri (diantara peserta malah pakar psikometri).  Diskusi mengenai teknik pengukuran menyita waktu yang cukup lama dengan berbagai argumen, ‘pengukuran’ seperti apa yang dilakukan dan hasilnya jenis data seperti apa menjadi bahasan yang beragam. Untuk teknik pengukuran seperti Thurstone, Gutmann dan Likert rating mudah untuk mencapai ‘konsensus’ bahwa itu adalah assign number  pada pilihan opini yang diberikan. Namun untuk jenis teknik pengukuran lain perlu referensi lebih panjang supaya bisa meyakinkan bahwa intinya memang hal yang sama, dimana human subject memang maksimal menghasilkan data dalam bentuk ordinal. Seorang peserta malah sampai perlu menjelaskan metoda yang digunakan yang menurutnya adalah ‘pengukuran’, namun dari diskusi bagaimana angka yang didapat maka sangat mudah untuk memahami bahwa itu pada dasarnya adalah bukan pengukuran namun data ordinal (yaitu opini atau sikap yang diberikan). Malah peserta tersebut dapat merefleksikan apa yang telah dijelaskan oleh suaminya sendiri sebelumnya, yang kebetulan adalah dosen ilmu statistik, tentang bagaimana menangani data yang berasal dari opini.

Suasana cair dan akrab memang membuat pelatihan tidak terasa untuk banyak diskusi dilakukan tentang berbagai aspek konteks teori respon butir dan rasch model serta perbandingannya dengan teori test klasik. Keraguan disuarakan apakah memang ini cocok dan layak diajarkan ke mahasiswa S1?  Pak Dekan menyebutkan konsekuensi yang dihadapi dimana pakem untuk mahasiswa S1 psikologi di Indonesia hal ini belum termasuk di dalamnya, artinya memang perlu ada usulan pengembangan (baca: perubahan) kurikulum. Dan peserta pun mendiskusikan seberapa besar tantangan yang akan dihadapi dalam kondisi saat ini. Menyimak hal itu tentu menggembirakan juga bila memang dilakukan revisi kurikulum pendidikan S1 psikologi untuk bisa mengakomodasi teori respon butir dan rasch model, dimana keterbukaan akan alat analisi yang ‘baru’ bisa membuka wawasan yang lebih luas bagi dosen dan terlebih pada mahasiswa.

Kegiatan praktek rasch model dengan menggunaakan software merupakan hal yang ditunggu-tunggu peserta yang ingi melihat sejauh mana ‘kesaktian’  hal ini. Dengan berbagai tampilan software Winsteps dari fungsi yang tersedia dengan data yang didapatkan langsung dari peserta, akhirnya memberikan decak kagum. Seolah-olah alat analisis yang selama ini dicari ternyata memang memberikan jawaban yang ditunggu-tunggu. Momen seperti ini tentu juga membahagiakan fasilitator karena bisa meyakinkan  bagaimana teori respon butir dan rasch model bekerja dalam menganalisis data serta interpretasinya pun tidak serumit yang dibayangkan.

Undip-1    Undip-2

suasana pelatihan di ruang rapat fakultas psikologi Undip (kiri); menerima sertifikat dari Bapak Prasetyo, dekan fakultas psikologi Undip (kanan)

tautan di website Fakultas Psikologi Undip: http://psikologi.undip.ac.id/?m=home&k=1&PageNum=6

dan tulisan salah seorang peserta pelatihan: http://ikazenita.wordpress.com/2014/06/03/berkenalan-dan-belajar-aplikasi-model-rasch-untuk-penelitian-jilid-2/

16. Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung; Kamis, 20 Maret 2014

Setelah selesai pelatihan di Undip Semarang, malam harinya langsung balik ke Bandung dengan kereta api, berhubung pada esok harinya diundang untuk memberikan pelatihan di Fakultas Ilmu Pendidikan UPI. Bu Ifa dari jurusan psikologi yang merencanakan dan mengatur acara ini. Tadinya saya pikir ini adalah pelatihan untuk dosen-dosen satu fakultas saja, namun hal yang tidak diduga memang bisa terjadi. Saat acara pembukaan oleh Dekan FIP-UPI di pagi harinya, beliau mengatakan bahwa yang diundang adalah semua dosen yang mengajar mata kuliah metodologi riset untuk mahasiswa pasca sarjana dari berbagai fakultas. Dan ini adalah perintah langsung dari pimpinan UPI. Tentu tidak menyangka sebelumnya mendapat sambutan seperti ini.

Dengan audiens yang beragam dan peserta yang semuanya pengampu mata kuliah metoda riset dan sekaligus pembimbing mahasiswa pasca sarjana, tentu perlu memberikan latar belakang info yang bisa dipahami bersama adalah prioritas yang harus dilakukan (beda dengan pelatihan di satu fakultas/jurusan psikologi  misalnya, dimana  mereka memahami tentang psikometri sehingga titik tolaknya mudah ditemukan). Saya juga menduga diantara peserta pasti ada yang memang mendalami teori respon butir (IRT) atau malah rasch model. Ternyata memang ada yang sudah mempelajari IRT sehingga beliau pun menjadi penambah info tentang berbagai hal yang bersangkutan, walau software yang dipakai dan model analisisnya berbeda.

Yang mengagetkan selalunya tentang identifikasi jenis data, berhubung terbiasa dengan teori tes klasik (baik hal ini disadari atau tidak bagi penggunanya) maka melihat alternatif lain dari data yang sama tetap jadi aneh. Hambatan psikologis memang lumrah terjadi namun itu adalah kondisi yang memang biasa terjadi, tinggal mengambil sikap mau diapakan hal tersebut.  Berhubung sudah begitu lama mengadopsi teori tes klasik, mulai dari masa studi sampai menjadi pembimbing, tentu hal ini adalah tantangan yang berbeda untuk dihadapi. Berhubung pelatihan di FIP UPI ini terjadi setelah berbagai pelatihan lain, maka saya bisa menampilkan berbagai contoh yang bisa lebih meyakinkan peserta yang didapat dari pelatihan sebelumnya. Misalnya menampilkan data hasil seleksi tes masuk mahasiswa, dimana identifikasi logit memudahkan menginterpretasi analisis; juga hasil riset dari bu Ifa yang memberikan ilustrasi tentang perbedaan pandangan siswa terhadap moral gurunya antara sekolah negeri dan sekolah swasta, tampilan peta person-aitem begitu mudah untuk diinterpretasi dan disimpulkan.

Pada saat pelatihan berlangsung, beberapa peserta pun menyatakan diri bahwa dia mempunyai data dari riset sebelumnya (riset dia sendiri ataupun riset mahasiswa bimbingannya), dimana rasch model akan digunakan untuk pengujian instrumen dan menjembatani untuk analisis statistik inferensial. Tanggapan seperti ini lah yang ditunggu-tunggu, karena menggunakan rasch model dengan data nyata yang dipunyai akan memberikan pengalaman nyata dan memudahkan adaptasi dengan alat analisis yang baru. Hal ini juga akan membuat si peneliti untuk secara kritis menilai dan membandingkan hasil yang didapat dari dua pendekatan analisis yang berbeda.

FIP UPI-1 FIP UPI-5

Suasana pelatihan rasch model (kiri); sambutan dari bapak wakil dekan FIP (kanan)

Disamping memberikan pelatihan tentang rasch model, tambahanya adalah menjelaskan tentang publikasi di jurnal internasional (khususnya yang terindeks di Scopus). Pengalaman sebagai reviewer pun dibagi dengan peserta dan menjelaskan beberapa  kendala yang biasa dihadapi dengan karya ilmiah yang pernah diperiksa, seperti komprehensifnya kajian pustaka, kelemahan metodologi riset khususnya saat menjelaskan reliabilitas dan validitas instrumen ataupun identifikasi jenis data, cara melaporkan temuan riset yang kaku dan tidak mengalir dengan lancar. Juga karena jurnal berbahasa Inggris maka kesulitan akademisi di kita makin bertambah, berhubung ini juga harus diikuti dengan kemampuan menulis [yang selalunya meminta English yang bagus] dan berargumen dalam artikel jurnal yang ditulisnya.

FIP UPI-4  FIP UPI-7

Penyerahan cendera mata dan foto bersama peserta setelah selesai pelatihan 

17. Jurusan Teknik Planologi Institut Teknologi Bandung; Rabu, 2 April 2014

Setelah menyelesaikan pelatihan untuk mahasiswa S2 teknik planologi ITB di bulan sebelumnya, minggu berikutnya sebenarnya diundang kembali untuk presentasi dan khusus untuk menjelaskan tentang serba-serbi menulis karya ilmiah bagi mahasiswa S3 di jurusan yang sama .  Saat menjelaskan tentang seluk-beluk publikasi ilmiah maka pengalaman sebagai dosen di Malaysia yang dijadikan titik tolak supaya bisa melihat posisi yang ada. Maksud mengundang presentasi ini tidak lain untuk memberikan wawasan pada mahasiswa S3 teknik planologi, dimana di ITB bila mahasiswa S3 belum juga mempunyai publikasi di jurnal di Scopus listed maka belum bisa dinyatakan lulus walaupun tesis sudah selesai.  Saat berbagai pengalaman tentang penulisan artikel ilmiah itu, mau tidak mau memang juga membahas tentang rasch model, sehingga pihak panitia merancang untuk mengadakan pelatihan lagi yang khusus untuk mahasiswa S3.

Waktu untuk pelatihan kali ini tidak banyak, hanya sekitar 3  jam saja. Maka memang fokus pembahasan adalah pada sisi teoretis. Hal yang tidak disangka ternyata dosen yang jadi peserta malah lebih banyak dibanding mahasiswa S3 yang hadir, beberapa dosen pun membawa asistennya yang tidak lain merupakan mahasiswa S1 tahun akhir untuk mencatat penjelasan yang diberikan, langkah prosedur penggunaan software serta membuat rangkumannya juga.  Memberikan penjelasan tentang jenis data tidak banyak ‘resistensi’ berhubung tipe audiens yang dihadapi; menghubungkan respon kuesioner menjadi odds-ratio pun peserta lebih banyak mengangguk karena memang hapal prosedur matematis yang menunjukkan frekuensi dari respon yang didapat menjadi data rasio. Transformasi dari data rasio dengan fungsi logaritma pun lancar diterima tanpa hambatan, menunjukkan peserta sudah terbiasa dengan kegiatan operasi matematika dalam pekerjaannya.

Namun saat meginterpretasi hasil logit banyak muncul pertanyaan,  apa maksudnya? terus apa yang perlu dilakukan? Disini memang menunjukkan hasil transformasi logit sesuatu yang memang baru dikenal, jugakesulitan dalam mengartikan maksud logit aitem dan person. Penjelasan yang mudah diterima adalah menampilkan peta person-aitem dan mencoba menginterpretasi berdasar konteks kuesioner latihan yang telah diberikan. Lambat laun hubungannya bisa terlihat dan tidak menjadi misteri lagi untuk dipahami.

Hal yang menarik lainnya adalah keaktifan peserta yang sudah bisa menebak arah analisis, seorang dosen malah berbagi pengalaman tentang riset yang pernah dilakukannya di Jepang. Dimana tim risetnya membuat kuesioner yang harus didisain dalam mengukur kepuasan penumpang pesawat saat di dalam bandara, baik yang pergi ataupun datang. Targetnya adalah menanyakan pada responden dengan waktu kurang dari tujuh menit saja, artinya harus mendisain pertanyaan yang bisa memberikan respon yang tepat dan sekaligus mengukur tentang kepuasan pelayanan bandara; hanya rasch model lah yang bisa digunakan untuk hal itu untuk mengidentifikasi aitem mana yang memang paling tepat mengukur.

Saking sibuknya memberikan penjelasan dan menjawab pertanyaan peserta, terlupa untuk mendokumentasikan kegiatan ini. Sehingga ini lah pelatihan terakhir dari seri roadshow pelatihan rasch model yang tidak mempunyai foto kegiatan saat masih berlangsung ataupun setelah berakhir (foto bersama). []

 

 


3 Comments

  1. […] keliling berbagai kampus di Pulau Jawa (bisa dilihat di beberapa artikel di blog, ini seri terakhir) memberikan input yang berharga, salah satunya adalah adanya pertanyaan mengenai seperti apa […]

  2. Safrudin Amin says:

    apakah ada pelatihan model Rasch untuk tahun 2015 ini di Yogyakarta? saya Berminat untuk ikut. dimana bisa di dapat bukunya yang jilid 2 ?

    • deceng says:

      Belum tahu juga, kalau ada yang ngundang baru saya bisa datang ke Yogya (maklum harus ijin ke atasan juga disini).
      kalau mau buku edisi ke-2, silahkan langsung ke penerbit via email di: trim_komunikata@yahoo.com [nanti mereka respon biaya buku dan ongkos kirimnya]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: