Rasch Model: Riset Kuantitatif

Home » Pelatihan Rasch Model » Roadshow Pelatihan Rasch Model di berbagai universitas-4

Roadshow Pelatihan Rasch Model di berbagai universitas-4

Melanjutkan cerita selanjutnya, kegiatan roadshow berikutnya terjadi di kota Bandung, Malang dan Yogyakarta. Tentu selalu ada keunikan dalam masing-masing kegiatan dan itulah yang selalu menarik dalam berbagai kegiatan pelatihan rasch model ini.

11. Fakultas Ilmu Komunikasi Univeritas Padjadjaran, Bandung, Rabu 19 Februari 2014.

Dibantu teman SMA yang sedang studi S3 di Fikom Unpad, maka dirancang kegiatan pelatihan oleh beliau. Format acara adalah kegiatan kuliah tambahan untuk mata kuliah metoda penelitian bagi mahasiswa S3 Fikom yang berlokasi di kampus Unpad Jatinangor, tidak lupa juga dosen pun diundang untuk hadir. Ada sekitar 28 orang yang hadir, dan terdapat tiga orang mahasiswa S3 dari IPB yang kebetulan ada di lokasi dan diajak untuk hadir, sisanya adalah mahasiswa S3  ilmu komunikasi Unpad.

Karena waktu yang diberikan hanya sekitar 3,5 jam, maka memang tidak bisa menceritakan banyak hal sehingga lebih banyak fokus kepada hal teoritis dan sedikit praktek. Seperti biasa penjelasan tentang dasar-dasar pengukuran dan jenis-jenis data selalu menjadi “biang kerok” untuk diskusi lebih panjang dan debat yang seru. Pengalaman riset sebelumnya selalu menjadi rujukan tentang bagaimana mengolah data ordinal “bisa menjadi” interval melalui prosedur MSI. Tentu diajukan argumen susulan untuk menunjukkan kesalahan fatal berikutnya bila hal itu dianggap boleh dilakukan.

Hal yang tidak terduga terjadi saat menjelaskan argumen data ordinal tidak bisa menjadi interval ini, dimana seorang mahasiswi langsung mengajukan protes, “kenapa kesalahan identifikasi data ini dan prosedur transformasinya dibiarkan terus, dan tidak dilakukan koreksi”. Tentu kaget juga mendengar protes tersebut, namun pertanyaan itu memang tidak untuk dijawab secara langsung. Penjelasan yang indah tentu menjelaskan bahwa sebagai mahasiswa doktoral yang akan memberikan kontribusi pada ilmu pengetahuan, maka selayaknya mahasiswa terbuka akan berbagai temuan baru dari beragam school of thought. Hal ini akan menghindari kesalahan prosedur yang diulang berkali-kali tanpa upaya koreksi (khususnya dalam konteks riset kuantitatif).   Tentu hal ini memang tidak mudah (seperti cerita dosen di Unair yang belajar sendiri tentang teori respon butir untuk keperluan disertasinya), namun ini akan memberikan keterbukaan dan dinamika yang positif tentang debat akademis yang terjadi di fakultasnya. Suatu mekanisme yang akan ‘menyelamatkan’ bila memang ada sesuatu yang memang perlu direvisi.

Fikom Unpad-1 Fikom Unpad

mengoperasikan software winsteps (kiri)  dan foto bersama setelah selesai pelatihan (kanan)

12. Lembaga psikologi Psychosense, Malang; Sabtu, 22 Februari 2014

Berbagai pelatihan sebelumnya dilakukan karena hal ini dihubungkan oleh teman SMA, teman kuliah, teman sesama alumni AusAID, teman kenal via chating, ataupun rekan sejawat dari pekerjaan sebelumnya. Namun untuk pelatihan di Malang ini, kontak dilakukan langsung oleh panitianya ke pihak penerbit buku Rasch Model. Oleh penerbit lah kemudian diteruskan ke saya untuk pengaturan waktu dan materinya. Berdasar kontak via email dan SMS, maka dirancanglah pelatihan oleh lembaga psikologi Psychosense yang dikendalikan oleh bu Rachma Widyantoro. Beliau sendiri adalah dosen psikologi di satu universitas swasta di Kota Malang, dan menyebarkan informasi hal ini ke sesama dosen dan mahasiswanya. Poster kegiatan seperti di bawah ini:

malang

Acara yang dirancang ternyata menjadi format pelatihan yang paling aktif, berhubung peserta yang hadir tidak banyak (10 orang).  Diskusi pun intens terjadi berhubung peserta berasal dari berbagai universitas negeri (Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang) dan universitas swasta yang ada di Malang, mayoritas memang dosen psikologi, walaupun ada juga yang berlatar belakang teknik industri dan informatika.

Hal yang membuat kaget peserta tiada lain bahwa pemahanan mereka tentang jenis data ordinal memang bisa mempunyai konsekwensi lain yang tidak diduga sebelumnya. Tentu protes dan saling menyanggah lumrah terjadi, berhubung begitu dominannya teori tes klasik dalam hal riset kuantitatif dalam ilmu psikologi di Indonesia. Seperti biasa ketegangan akan mereda bila dilakukan latihan mengisi kuesioner, dan menolahnya dengan Winsteps. Kekaguman pun muncul, tidak menyangkan bahwa data yang diberikan bisa memberikan peta abilitas responden dan tingkat kesulitan aitem (dalam konteks Likert rating maksudnya adalah: yang susah disetujui) secara langsung dan dalam satu dimensi. Bagi psikolog yang pernah merancang instrumen dan melaporkan hasil pengujian instrumen-nya akan dengan mudah melihat potensi yang bisa digunakan dalam memberikan hasil yang lebih tepat dan deskripsi bisa diberikan secara ilustratif.

Diskusi lain yang menarik adalah tentang aplikasi dari rasch model yang bisa memprediksi terhadap data yang hilang, ataupun pola jawaban yang tidak konsisten (misfit). Tentu ini mengejutkan bagi yang terbiasa dengan teori tes klasik dimana rasch model yang berdasar pengukuran abilitas person dan tingkat kesulitan soal, bisa meramalkan bahwa data yang hilang itu akan seperti apa sesungguhnya. Topik diskusi yang hangat juga adalah ketepatan hasil pengukuran bahwa pola jawaban yang tidak konsisten dari seorang responden bisa diidentifikasi dan bisa memberikan interpretasi yang tepat tentang abilitasnya (misal, kemampuan yang lebih rendah akan memberikan prediksi bahwa soal yang sulit tidak akan dijawab dengan benar).

malang-2

 foto bersama setelah pelatihan dengan sebagian peserta

13. Jurusan Akuntansi, Universitas Muhamadiyah Yogyakarta, Yogya;  Sabtu, 1 Maret 2014

Berdasar kontak dengan Pak Rudy Suryanto, dosen jurusan akuntasi di UMY yang juga partner yang pernah kerja bareng lima tahun sebelumnya, dirancanglah kegiatan pelatihan ini. Khusus untuk jurusan akuntasi, ini adalah kali kedua setelah STAN yang menyelenggarakannya. Poster acara pelatihan seperti di bawah ini:

UMY

Peserta yang hadir sekitar 40 orang, mayoritas adalah dosen, yang ternyata berasal dari berbagai jurusan (tidak hanya dari jurusan akuntasi saja), tercatat ada yang latar belakangnya dari manajemen, psikologi maupun pendidikan.  Dalam pelatihan di UMY ini yang menjadi topik diskusi serius adalah bagaimana rasch model bisa menghasilkan skala pengukuran dengan interval yang sama. Ide pengukuran yang kualitasnya sama dalam ilmu fisika memang sulit bisa diterima bila hal itu ternyata bisa terjadi dalam ilmu sosial. Maka penjelasan yang mudah adalah memberikan ilustrasi fungsi logaritma yang biasa dipahami oleh peserta; caranya dengan meminta mereka untuk mengingat pelajaran kimia SMA tentang sekala keasaman larutan yang dilambangkan dengan konsentrasi H+ (yaitu skala pH), dimana konsentrasi larutan yang mengandung ion hidrogen dengan fungsi logaritma didapatkan angka bilangan bulat yang mudah untuk dipahami. Hal yang sama juga diterapkan pada nilai odds-ratio dari pilihan jawaban yang diberikan oleh responden, dengan transfromasi logaritma ini maka besaran dari odds-ratio tetap menunjukkan hasil pengukuran yang menunjukkan besarannya, bedanya kalau “menghitung” yang biasa dilakukan maka sifatnya tidak linier, beda dengan hasil transformasi menjadi logit yang selain linier juga menunjukkan skala yang satu dimensi.

Dikusi lanjutannya  adalah, apa nilai praktis dari data logit sehubungan dengan analisis statistik inferensial. Untuk hal ini sebetulnya model matematika rasch model memberikan solusinya juga, dimana logit dari person dan aitem, bisa ditransformasi balik kepada fungsi anti logaritma yaitu eksponensial. Data yang diperoleh tentu sudah dalam bentuk rasio yang nantinya akan memudahkan dalam analisis statistik dengan software semacam Excel atau SPSS.

UMY-1 UMY-2

bergambar bersama sebagian peserta pelatihan (kiri), dan penerimaan cendera mata dari ketua jurusan akuntansi UMY (kanan)

14. Jurusan Teknik Planologi, Institut Teknologi Bandung; Rabu, 12 Maret 2014

Setelah melakukan kuliah umum di jurusan teknik arsitektur pada bulan sebelumnya, seorang dosen dari jurusan teknik planologi, yaitu bu Teti melakukan kontak. Beliau minta untuk diadakan pelatihan khusus untuk mahasiswa S2 teknik planologi yang menjadi bagian dari mata kuliah metodologi riset. Pelatihan dilakukan sehari penuh dengan jumlah peserta mencapai 40 orang lebih. Ternyata latar belakang peserta memang beragam, tidak semuanya dari jurusan planologi, namun juga dari pertanian, manajemen, teknik sipil, bahkan komputer.

Berhubung mayoritas mahasiswa jurusan teknik dan sains, maka penjelasan tentang jenis data dan transformasinya tidak begitu susah untuk dipahami. Kendala justru terjadi saat diberikan  ilustrasi yang saya bawa yaitu kuesioner yang memang biasa dipergunakan dalam ilmu sosial. Untungnya ada bu Teti, dosen di jurusan planologi yang memberikan ilustrasi yang lebih cocok tentang kuesioner atau instrumen yang biasa digunakan dalam bidang ilmu bersangkutan. Seperti halnya jurusan arsitektur, jurusan planologi juga berhubungan dengan human subject dimana opini dan sikap  responden akan sesuatu hal yang bisa ditanyakan dan menjadi data untuk analisis sesuai dengan fokus risetnya.

Pada saat menjelaskan aspek teknis bagaimana data ordinal menjadi odds-ratio, terus diubah menjadi logit, tidak banyak kesulitan untuk bisa memahami ide baru ini. Sesuatu yang tidak diduga adalah, bahwa peserta pun dengan cepat bisa melihat kepraktisan ide pengukuran dengan rasch model, serta bertanya lebih lanjut apa yang seterusnya harus dilakukan bila ingin menguji hubungan atau perbedaan dalam uji statistik  inferensial. Saat ditunjukkan rumus transformasi balik dari logit ke data rasio dengan persamaan eksponensial, maka mereka bisa langsung menerapkan dan membuat tabelnya di microsoft excel. Hal yang menunjukkan sudah terbiasa dengan rumus dan menggunakan software spreadsheet dalam mengolah data.

Planologi ITB-1  Planologi ITB-2

suasana pelatihan di lab komputer jurusan planologi (kiri); foto bersama selesai pelatihan (kanan)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: