Rasch Model: Riset Kuantitatif

Home » Pelatihan Rasch Model » Roadshow Pelatihan Rasch Model di berbagai universitas-3

Roadshow Pelatihan Rasch Model di berbagai universitas-3

Melanjutkan cerita roadshow pelatihan berikutnya adalah kegiatan di tiga universitas di tiga kota yang berbeda yang lokasinya ada di ujung barat Pulau  Jawa di Serang, dan satu lagi  ada di ujung timur Pulau Jawa (di Surabaya) dalam konteks kota yang dikunjungi.  Seperti biasa acara seperti ini memberikan manfaat yang berlipat dan memberikan banyak informasi berharga.

8. Univ Mustopo Beragama, Jakarta, Minggu 9 Februari 2014

Perjalanan ke Univ Mustopo ini agak unik juga, dimulai dari perkenalan dengan facebook dengan satu orang dosennya jauh sebelumnya. Beliau mendapat tawaran kerja di satu universitas di Malaysia dan ingin mencari info bagaimana dunia kerja sebagai dosen di Malaysia; dari sana lah banyak diskusi dilakukan sampai akhirnya saat tahu saya sedang di Indonesia dan memberikan pelatihan Rasch Model dia menggunakan kesempatan untuk mengundang secara khusus ke universitas tempatnya bekerja.

Sebelumnya, rada aneh juga kenapa harus datang pada hari minggu, saat biasanya libur kerja atau kuliah. Baru bisa terjawab setelah beliau menjelaskan bahwa formatnya adalah kuliah umum, dan yang hadir adalah mahasiswa pascasarjana (s2) yang memang kuliahnya dilakukan akhir pekan karena rata-rata memang mereka sudah bekerja. Mahasiswa pasca sarjana yang hadir berasal dari tiga jurusan yaitu, ilmu manajemen, ilmu komunikasi dan ilmu sosial-politik. Tidak ketinggalan juga dosen-dosen mereka turut hadir.

Pada saat datang ke kampusnya, diajak ngobrol oleh  seorang dosen yang alumni dari IPB dan pernah studi di universitas di Malaysia, tepatnya di Universiti Putra Malaysia (UPM).  Dia ingin mencocokan berbagai cerita terbaru tentang kemajuan dunia pendidikan tinggi di Malaysia khususnya dalam hal riset dan publikasi, sesuatu yang menurutnya memang perlu dicontoh. Dia merasakan sendiri suasana yang ada saat studi di UPM, yang merupakan satu universitas papan atas di Malaysia yang agresif dalam hal peningkatan kualitas riset dan publikasi.

Hal yang berikutnya adalah diajak oleh seorang dosen dari ilmu manajemen untuk hadir di kelasnya dan bercerita tentang seluk-beluk publikasi di universitas di Malaysia. Agak susah menjelaskan hal ini pada mahasiswa pascasarjana yang memang aktivitas studinya lebih kepada mengikuti perkuliahan, dan bukannya kegiatan mandiri dalam melakukan riset. Maka perbincangan yang ditampilkan lebih banyak adalah tentang hal yang umum saja seperti reputasi universitas tingkat dunia memang sangat didukung oleh aktivitas riset dan publikasi di jurnal internasional yang prestisius; bagaimana mengetahui kualitas jurnal yang terindeks dan mana yang memang abal-abal (predatory journal); tantangan melakukan riset dan tips supaya bertahan dan lancar dalam mengerjakan riset.

Acara utama yaitu kuliah umum tentang rasch model berlangsung pada sore hari. Karena audiens kebanyakan mahasiswa yang akan melakukan riset, maka penekanan adalah  pada jenis data yang dikumpulkan dan desain analisis data (statistik inferensial) dalam kegiatan riset. Berhubung hal yang baru, tidak banyak mahasiswa yang bertanya, yang lebih aktif untuk bertanya malah dosennya. Berbagai pertanyaan ‘menggugat’ muncul khususnya tentang jenis data dan keabsahan analisis yang ‘biasa dilakukan’. Memang perlu waktu cukup lebih lama dan ruang diskusi yang lebih intens untuk bisa memuaskan kedua belah pihak dan memetakan dengan  tepat dimana posisi rasch model dalam kerangka riset dan data analisis yang dikerjakan.

Yang membahagiakan selalunya adalah pertanyaan dan tindak lanjut dari para mahasiswa. Hal ini terlihat dari permintaan alamat email, pembelian buku dan yang cukup mengejutkan adalah menghubungkan ke komunitas lain yaitu ke Indec (Indonesian Development Evaluation Communities). Ini tentu membawa harapan lainnya tentang potensi penggunaan Rasch model dalam ilmu sosial lainnya.

Univ Mustopo

suasana kuliah umum di Univ Mustopo

9. Fakultas Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa,  Serang, Senin 10 Februari 2014

Pelatihan di Untirta dihubungkan oleh salatu satu dosennya, yaitu mas Alpha Amirrachman. Enam tahun sebelumnya pernah kontak dengan beliau saat masih sama-sama di Jakarta, terhubung kembali saat dia sedang studi S3 di Belanda, dan akhirnya bisa bertatap muka kembali saat beliau mengikuti  post-doctoral di ISEAS Singapura. Mas Alpha yang mengatur untuk kegiatan pelatihan yang dia ajukan untuk diselenggarakan oleh fakultas pendidikan Untirta; lengkap dengan mengantarkan langsung dari Jakarta ke Serang dengan mobil klasiknya. Seperti biasa yang menjadi panitia kegiatan adalah mahasiswa S1, yang kerja bakti mulai dari urusan pendaftaran peserta, penyediaan konsumsi, serta penghubung ke pihak lainnya.

Untirta

poster kegiatan pelatihan rasch model di Untirta, Serang

Pagi hari saat akan memulai pelatihan ada kejutan khusus yang tidak pernah ditemui di berbagai universitas yang mengadakan pelatihan rasch model ini. Yaitu, rektor Untirta sendiri yang langsung datang memberikan sambutan dan membuka pelatihan. Seperti biasa karena sambutan peresmian oleh rektor, maka semua pejabat fakultas ikut hadir dan mendengarkan ceramah yang diberikan oleh beliau. Malah selama pelatihan dekan fakultas pun hadir menjadi peserta aktif.

Seperti biasa, diskusi tentang jenis data dan keabsahan analisis selalu menjadi topik yang perlu dibahas dengan hati-hati dan juga panjang lebar. Keterikatan dengan teori tes klasik memang tidak bisa dikesampingkan dengan mudah, khususnya saat baru mengetahui alat analisis yang lain yang bisa memberikan ketelitian pengukuran lebih tepat.  Diantara peserta yang hadir selain dosen dari FKIP Untirta, terdapat juga dosen dari jurusan psikologi yang berasal dari universitas lain yang rajin memberikan pertanyaan kritis seputar materi pelatihan. Mereka langsung bisa menebak arah analisis tentang bagaimana data ordinal  bisa dijadikan data rasio dengan transformasi balik dari nilai logit person dan aitem. Seperti biasa yang diperlukan adalah konfirmasi saja bahwa itu memang bisa dilakukan, dan mudah dilakukannya melalui software spreadsheet seperti microsoft excel melalui rumus yang diberikan. Hal yang wajar meminta kepastian berhubung ini sesuatu yang baru diketahui.

Untirta-1  Untirta-2

Pak Rektor Untirta memberikan sambutan (kiri); sebagian peserta pelatihan di FKIP Untirta (kanan)

 10. Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, Surabaya; Kamis-Sabtu 13-15 Februari 2014

Pelatihan berikutnya yang merupakan terlama dalam kegiatan roadshow ini adalah yang dilakukan di Fakultas Psikologi Unair, Surabaya. Dihubungkan melalui pertemanan sesama alumni Flinders University, Australia (walaupun beda angkatan namun sering kontak via email), yaitu bu Aryani yang merupakan dosen fakultas psikologi Unair. Sebelumnya saya menawarkan ke beliau bahwa untuk memberikan info yang lengkap tentang rasch model, ada baiknya pelatihan diberikan dua hari penuh; ternyata rancangannya sesuai dengan yang disebutkan, ditambah dengan satu hari pelatihan untuk mahasiswa Unair, serta dosen dan mahasiswa dari universitas lainnya.

Unair Unair-1  

poster pelatihan di Unair dan peserta pelatiahan hari pertama dengan dosen psikologi Unair

Ternyata dibuat khusus pelatihan dua hari di Unair memang ada alasan tersendiri. Latar belakangnya adalah adanya satu dosen di Fakultas Psikologi Unair yang sedang studi S3 yang menggunakan pendekaran teori respon butir (IRT, item response theory).  Dosen tersebut di fakultasnya tidak mempunyai pembimbing yang memang menguasai tentang IRT ini, sehingga perlu mencari pembimbing dari universitas lain, yaitu Prof Yahya Umar dari Fak Psikologi UIN Syarif Hidayatulah, Jakarta. Pada saat yang sama, “pendekatan baru” ini menimbulkan banyak tanda tanya yang juga perlu penjelasan dan ‘rasa aneh’ dari pendekatan teori tes klasik yang memang biasa dilakukan. Oleh karena itu, adanya tawaran pelatihan Rasch Model merupakan kabar yang waktunya tepat dan memang ditunggu-tunggu oleh civitas akademika di fakultas psikologi Unair. Khususnya untuk bisa memberikan kejelasan dan pemahaman tentang misteri bidang studi yang dilakukan oleh salah satu dosennya.

Tidak aneh diskusi pelatihan selama dua hari merupakan debat dan penjelasan yang seru dari awal sampai akhir. Meyakinkan peserta, khususnya yang dosen psikometri, perlu lebih banyak ‘amunisi’ dan ilustrasi yang cukup supaya bisa menerima ide ilmiah ini dengan mudah. Sampai akhirnya berujung pada pertanyaan krusial yang sebetulnya mempertanyakan pemahamannya sendiri seperti, apakah hal ini tepat diajarkan ke mahasiswa S1? jawaban saya tentu mendukung bahwa ini sedini mungkin diperkenalkan ke mahasiswa S1 sehingga mereka bisa melihat alternatif yang berbeda dalam hal menafsirkan jenis data dan menentukan jenis analisis yang tepat untuk datanya.  Proses tranformasi balik dari data logit menjadi data rasio pun tidak harus menunggu penjelasan lain, namun langsung dilakukan oleh peserta dengan persamaan yang diberikan, dan kagum dengan hasil analisis statistik inferensial yang memberikan data yang lebih signifikan tarafnya.

Pada hari pelatihan berikutnya (dimana malamnya Gunung Kelud meletus), saat memberikan latihan dengan software Winsteps dengan menggunakan tipe jenis data dikotomi yang berasal dari ujian pilihan ganda, maka yang digunakan adalah data hasil seleksi masuk mahasiswa baru. Dengan data nyata hasil seleksi tentu analisis menjadi lebih menarik untuk didiskusikan.  Dengan menampilkan peta aitem dan person, terlihat dengan nyata berapa nilai standar minimal seorang calon mahasiswa yang bisa diterima; juga langsung bisa dideteksi mana aitem yang memang mengukur tingkat abilitas calon mahasiswa dan mana aitem yang memang tidak memberikan penilaian yang tidak konsisten. Diskusi menjadi lebih menarik saat menjelaskan tentang pola jawaban calon mahasiswa, dimana terdapat mahasiswa dengan pola respon yang tidak konsisten, bisa menjawab pertanyaan susah namun gagal menjawab benar pertanyaan mudah.

Hal yang menarik dari pelatihan hari kedua ini adalah hadirnya bu Yanti yang membantu saya dalam menjelaskan berbagai hal yang berhubungan dengan IRT. Dengan bahasa yang mudah dipahami peserta, dia menjelaskan tentang item dimensionalitas yang merupakan salah satu fungsi yang terdapat dalam Winsteps yang menjadi parameter apakah instrumen memang menghasilkan pengukuran satu dimensi; hal lainnya dia juga menjelaskan deteksi bias dari aitem. Bantuan ini tentu melegakan bagi saya, dan juga bagi Bu Yanti sendiri dimana dia bisa menjelaskan apa yang dia pelajari dalam menyusun tesis S3-nya ternyata bisa dibagi dalam bentuk   yang lebih sederhana dengan software Winsteps.

Unair-2  Unair-3
Bu Yanti menjelaskan deteksi bias dengan Winsteps (kiri); peserta meminta tanda tangan di buku rasch model (kanan)

Pada hari terakhir adalah memberikan pelatihan sehari penuh bagi dosen dan mahasiswa selain dari fakultas psikologi Unair. Berhubung audiens yang dihadapi baru dan beragam, mayoritas dosen psikologi dari berbagai universita di Surabaya, maka tantangan menjelaskan perbedaan teori tes klasik dan rasch model selalunya menjadi hal yang berat untuk diterima. Hal ini sangat terasa dan terlihat dengan gerak tubuh yang ditampilkan oleh beberapa peserta (yang tentunya hardliners teori tes klasik). Dalam bertanya pun tidak lupa menyebutkan buku rujukan yang ditulis oleh salah satu profesor tersohor yang memang pendapatnya sesuai dengan yang dia pahami. Menghadapi deadlock seperti ini, saya sudah mempunyai senjata cadangan yang ampuh, yaitu langsung memberikan latihan yang dikerjakan sendiri, memasukkan data sendiri, untuk kemudian mengolahnya dengan Winsteps. Dari sana diberitahukan bagaimana hasilnya dan seperti apa interpretasinya; cara seperti ini selalu ampuh untuk menunjukkan keunggulan rasch model dalam analisis instrumen sampai ke tingkat individual aitem.

Terdapat hal tak terduga juga dimana bertemu dengan mbak Dyah, yang dulu sama-sama studi di Flinders University, Adelaide. Saat yang sama juga mendapati seorang mahasiswa dari Univ Brawijaya yang menyatakan akan beratnya nanti berdebat dengan dosennya yang berpandangan bahwa data ordinal dianggap sebagai data interval. Berbagai pengalaman ini tentu memberikan arti tambahan dari kegiatan keliling berbagai kampus memberikan pelatihan rasch model.

Unair-5 Unair-6

suasana pelatihan hari ketiga dan foto bersama setelah selesai semua kegiatan

Hal yang unik dari Fakultas Psikologi Unair dibanding tempat lain yang saya kunjungi adalah akrabnya hubungan antara dosen dan staf lainnya. Mereka punya tradisi makan siang bersama, dimana semua staf (dosen dan pegawai administrasi) tidak perlu mencari makan diluar karena makan disediakan dan menjadi acara bersama yang dilakukan setiap hari. Dengan cara seperti ini maka menu yang ada memang diatur makanan dengan kombinasi yang sehat. Keakraban dengan dunia teknologi infomasi pun memudahkan saat membagi file, cukup dengan mengirim pada milis internal fakultas psikologi maka semua dosen peserta secara langsung bisa donwload file untuk latihan maupun pengumuman lain yang berhubungan saat pelatihan. Sesuatu yang mengagumkan.

tautan tweet pelatihan di Unair:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: