Rasch Model: Riset Kuantitatif

Home » Penelitian » Disain Pembuatan Instrumen

Disain Pembuatan Instrumen

Memiliki jumlah pertanyaan atau pernyataan (butir) yang mencukupi dalam kuesioner selalu menjadi tema utama dalam pembuatan kuesioner. Hal mendasar tentunya adalah apakah pernyataan/pertanyaan yang diajukan memang mengukur apa yang seharusnya diukur (validitas). Peneliti yang membuat kuesioner selalunya mendapati pilihan bentuk skala peringkat (rating) mana yang akan digunakan serta tantangan bagaimana mengesahkan pilihan yang dibuat. Intrumen apapun yang dibuat kondisinya adalah invalid sampai hal tersebut diuji dan memenuhi kriteria yang menunjukkan instrumen memang memiliki reliabilitas.  Bila hal ini tidak dilakukan maka akan menyebabkan semua data yang diperoleh dalam riset tidak berguna dan tidak dapat digunakan untuk interpretasi yang bermakna. Sehingga pengetahuan dan ketrampilan pembuatan kuesioner sangatlah diperlukan oleh peneliti kuantitatif manapun untuk menghindari kesalahan fatal karena ketidaktahuan. Bagi peneliti pemula (novice) , adalah hal yang normal ketika dihadapkan dengan tantangan pembuatan kuesioner untuk risetnya merasa serba tidak jelas, bingung dan malah ‘tersesat’. Kebingungan makin bertambah saat berhadapan dengan ketidakjelasan apa yang seharusnya diukur dan bagaimana mengukurnya.  Bertanya kepada pakar pun bukannya menambah kejelasan, berbagai info tambahan yang didapat malah menimbulkan kesangsian, apalagi saat mendiskusikan bahwa kuesioner sesungguhnya adalah instrumen pengukuran. Pembuatan instrumen untuk riset jelas memerlukan pemahaman konsep yang harus didukung oleh keterampilan dan pengetahuan dari bidang lainnya. Yang paling utama tentunya pemahaman yang jelas tentang ontologi dan epistemologi struktur data sebelum menyusun instrumen pengukuran tersebut.

Dalam ilmu-ilmu sosial, khususnya penelitian kuantitatif, urusan pengukuran menjadi hal yang sangat penting karena merupakan inti aktivitas riset itu sendiri. Berbagai peneliti telah melakukan eksplorasi pada berbagai metoda dan mengembangkan berbagai teknik statistik untuk menjadikan instrumen yang memuaskan seperti halnya yang dipersyaratkan dalam metrologi (ilmu pengukuran). Dalam konteks pemodelan Rasch Pakar seperti Guttman, Mokken, Rasch, Wright menghabiskan waktunya mengembangkan pengukuran dan pengujian instrumen; juga geneasi berikutnya seperti Linacre dan Andrich yang menjadikan Rasch Model lebih konsosten dan dapat diterima.  Wright dan Mok menetapkan beberapa lima syarat yang harus dipenuhi yang akan menjadikan pengujian suatu instrumen yang valid: 1). unit kuantitas terukur; 2) konsep yang terskala; 3) mempunya interval yang linear; 4) replicable; dan 5) dapat melakukan prediksi. Hanya pemodelan rasch lah yang dapat memenuhi syarat pengujian instrumen seperti ini.

Penyusunan instrumen

Aturan dasar yang pelru diperhatikan adalah uji validitas, yaitu instrumen yang dibuat memang mengukur sesuatu yang seharusnya diukur.  Dalam kuesioner, hal ini bergantung pada butir-butir konsep dan teknik pengukuran yang digunakan. Pertanyaan berikutnya adalah apakah responden mampu membedakan jawaban dari pertanyaan atau pernyataan yang diberikan sesuatu dengan kategori peringkat yang diberikan. Penyusunan butir konsep haruslah tidak memiliki kategori yang istimewa atau istilah yang membingungkan.

Analisis Rasch mempunyai kemampuan dengan teknik statistiknya untuk memastikan dan memeriksa persepsi setiap responden. Kategori dengan label “Tidak tahu”, “Tidak Berlaku” atau “Lainnya” merupakan contoh pilihan kaetgori yang salah penempatan dan lebih baik tidak digunakan. Contoh lainnya, biasa terdapat pada akhir kuesioner adalah “Secara keseluruhan”, “Secara umum”  merupakan pilihan yang bertentangan dan berlebihan untuk dinyatakan.  Jawaban dari kategori seperti ini pada dasarnya memang tidak diperlukan, dan peneliti sendiri akan kebingungan saat jawabannya bertentangan dengan pengukuran butir.

Disarankan bahwa setiap peneliti menyusun instrumen risetnya sendiri, hal ini akan memberikan nilai tambah bagi si peneliti dan mengembangkan kreativitas dan kemandirian dalam pembuatan instrumen. Pada saat yang sama, riset seharusnya memberikan sumbangan yang berharga dan unik bagi ilmu pengetahuan, hal ini tidak akan terlalu terlihat bila hanya mengandalkan ‘instrumen standar’ yang sudah dibuat orang lain, tidak ada kebaruan dihasilkan. Untuk memulainya tidak lain tentu harus merujuk kepada model yang suskes dalam bidang kepakaran tersebut; biasanya model yang ada sudah terstruktur dengan baik dan logis. Disamping itu biasanya model sudah diuji berulang kali dan konsisten hasilnya. Model ini akan menjadi kerangka untuk penyusunan instrumen. Berbagai dimensi yang disebut dalam model tersebut menjadi panduan dan berbagai faktor yang berkontribusi dalam setiap dimensi juga sudah diidentifikasi. Hal ini tentu memudahkan kita dalam penyusunan butir. Akan menjadi lebih bagus bila semua ini didukung oleh kajian pustaka yang komprehensif yang akan membantu menyelesaikan masalah ini dengan mudah.

Beberapa saran yang perlu dilakukan saat penyusunan instrumen adalah:

1. Buatlah kuesioner yang singkat dan padat; seorang peneliti harus mendefinisikan secara tepat apa informasi yang memang diperlukan. Kuesioner yang dirancang untuk menampilkan semua pernyataan yang berhubungan akan menghasilkan kuesioner yang panjang  dan bertele-tele. Hal ini potensial menyebabkan responden merasa tidak nyaman saat mengerjakannya,  respon yang tidak akurat, tidak menyelesaikan serta memperkecil tingkat pengembaliannya. Dengan kemampuan Rasch yang mampu menangani data yang hilang dan inferensi ukuran sampel yang kecil, pembuatan disain yang bertele-tele tidak perlu dilakukan.

2.  Lakukan uji validitas isi dan uji coba (pilot test) kuesioner. Dapatkan umpan balik dari rancangan awal dengan jumlah sampel yang terbatas namun representatif; mendapatkan umpan balik dari uji coba lapangan juga akan banyak membantu.

3. Berikan pilihan respon pada partisipan yang jelas dari segi bahasa dan logika. Respon setuju terhadap pernyataan atau pernyataan dapat diringkas dalam dua pilihan yang sederhana: 1) Tidak Setuju        2)  Setuju

4. Lakukan kategorisasi pilihan, ketika responden dihadapkan pilihan dari sikap terendah ke yang tertinggi; selalunya lebih baik mengurutkan dari kiri ke kanan yang makin meningkat:  1) Tidak pernah     2)  Jarang       3) Kadang-kadang       4) Selalu

5. Berikan pilihan untuk memberika peringkat positif atau negatif. Responden biasa mendapat kesulitan untuk menentukan peringkat pada satu butir dengan memiliki opini yang lebih kuat; kecenderungannya mereka untuk memilih peringkat paling ujung dari yang ditampilkan.  Oleh karena itu pilihan opini bagi responden yang tidak terlalu kuat atau tidak terlalu mengetahui, pilihan ini lebih cocok: 1) Tidak Setuju    2) Cenderung Tidak Setuju      3) Cenderung Setuju        4) Setuju.  Pilihan tadi mempunyai kelebihan untuk mengekspresikan tingkat ketidaktahuan. Bandingkan misalnya dengan pilihan opini yang biasa digunakan: 1) Sangat Tidak Setuju    2) Tidak Setuju      3)  Setuju      4) Sangat Setuju;   dari aspek bahasa “Sangat Tidak Setuju” atau “Sangat Setuju”  terlalu berlebihan.

6. Kuesioner yang mengukur sikap ada baiknya butir-butir yang diberikan tidak harus semuanya positif, berikan satu pernyataan yang sifatnya negatif dan tempatkan secara acak (misal satu pertanyaan negatif dalam setiap tujuh pernyataan positif). Ini untuk mengecek keseriusan responden dan membuat mereka waspada dengan isi pernyataan dalam mengerjakan kuesioner. Tentu hal yang tidak boleh dilupakan, rating yang diberikan pun akan terbalik dibandingkan pernyataan positif.

Saran yang perlu dihindari dalam penyusunan kuesioner adalah:

1. Hindari pertanyaan terbuka, biasanya responden tidak ingin atau tidak mampu untuk memberikan respon secara tertulis.

2. Hindari pilihan jawaban “lainnya”. Responden yang tidak teliti akan cenderung memilih pilihan “lainnya” bila dirasa banyak ketidakpastian atau karena alasan sepele.

3. Hindari memberikan pilihan yang sangat beragam, contohnya:  1) Tidak Pernah         2)  Jarang          3)  Kadang-kadang       4) Cukup sering         5) Sering            6) Sering kali            7)  Hampir Selalu             8) Selalu dilakukan;   pilihan tersebut potensial membingungkan dan menganggu responden untuk menentukan pilihan mana yang paling tepat dengan kondisinya. Berbagai riset psikometri menunjukkan kebanyakan responden tidak dapat melihat perbedaan lebih dari enam pilihan.  Hal ini menunjukkan lima pilihan yang diberikan adalah ideal. Analisis dengan pemodelan Rasch menunjukkan bahwa sensitivitas pengukuran tidak lah hilang walau peringkat tidak beragam, bahkan hasil analisis bisa menunjukkan peringkat pilihan kalau perlu digabungkan atau dipecah.

4. Hindari pilihan di tengah atau respon netral. Penggunaan respon posisi netral dilakukan pada masa dahulu karena ketidakmampuan proses perhitungan dalam menentukan data yang hilang. Dalam kondisi itu, tidak ada respon digantikan dengan respon netral untuk menghindari masalah dalam perhitungan. Hal ini tidak menjadi masalah lagi dengan Rasch dimana proses perhitungan sudah lebih canggih, bahkan bisa meramalkan dengan tepat data yang hilang sekalipun. Dengan tidak adanya pilihan netral, maka responden mau tidak mau harus memilih pada pilihan yang ada yang menunjukkan sikapnya.

5. Sehubungan dengan da atas, terdapat beberapa jenis butir yang memang diperlukan posisi netral; misalnya untuk pernyataan: Tugas pekerjaan rumah yang diberikan:  1) terlalu sedikit       2)   layak       3)   terlalu banyak                                    namun sesuatu yang tidak realistis untuk meminta responden untuk menilai sesuatu yang sifatnya bisa dibandingkan namun diberikan pilihan  netral, misalnya;                                                                                                                                                  Penilaian yang dilakukan oleh dosen metodologi riset, menurut saya adalah:                                                                                           1) Setuju               2) Cenderung Setuju                3) Tidak Menjawab                 4) Cenderung Tidak setuju           5)  Setuju

6. Hindari perintah yang meminta responden untuk merangking. Responden tidak akan bisa memberikan respon ranking lebih dari enam buah dalam satu waktu tertentu, kebanyakannya salah interpretasi atau membuat respon yang keliru. Untuk menghindarinya, contoh berikut bisa membantu untuk mereka memberkan respon yang tepat:                                            Ini adalah pilihan warna untuk dinding kantor:  1)  putih          2) krem           3)  abu-abu                                                                       a). Warna yang paling tepat menurut saya adalah? ______                                                                                                                                   b) Pilihan warna kedua bagi saya adalah? _______                                                                                                                                                  c) Pilihan warna terakhir yang saya pilih? ________


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: