Rasch Model: Riset Kuantitatif

Home » Penelitian » Reliabilitas dan Validitas

Reliabilitas dan Validitas

Dalam sains, pengukuran oleh suatu instrument satu hal  esensial yang membuatnya bisa berkembang karena mempunyai titik tolak yang terstandarisasi. Misalnya untuk mengukur suhu, digunakan termometer dimana skalanya sudah ditetapkan dan dikalibrasi berulang kali dimana hasil bacaannya memberikan informasi yang mengindikasikan sesuatu, misal suhu tubuh normal 37oc, bila hasil bacaan termometer pada satu suhu tubuh seseorang adalah 40oc, dokter percaya dengan hasil bacaan tersebut dan akan segera bertindak karena hal itu menunjukkan gejala yang tidak normal. Termometer yang sama juga akan memberikan hasil bacaan yang dipercaya oleh dokter untuk mengukur suhu pasien lain (baik pasien itu besar-kecil, tua-muda, lelaki-perempuan dll)  yang berada di tempat manapun di muka bumi. Hal ini menunjukkan termometer sebagai instrumen yang valid (tepat) untuk mengukur suhu tubuh, dan reliabel (memberikan hasil pengukuran yang konsisten). Dalam penelitian kuantitatif, isu reliabilitas dan validitas instrumen adalah hal paling penting karena ini menunjukkan kualitas riset secara mendasar.Reliiabilitas dan validitas adalah konsep utama dalam pengukuran untuk riset kuantitatif, gambar di bawah memberikan ilustrasi mengenai kedua hal tersebut:

validity_Reliability

instrumen yang valid dan reliabel akan memberikan hasil yang dapat dipercaya, sebaliknya instrumen yang gagal memenuhi kedua syarat tadi maka hasil penelitiannya tidak bernilai sama sekali.

1. Reliabilitas

Reliabilitas bermakna konsistensi, yaitu pengukuran oleh satu instrumen yang dilakukan berkali-kali maka hasilnya sama, atau tidak banyak perbedaan yang berarti (dalam satu pengukuran akan selalu terdapat perbedaan hasil walaupun kecil dan bisa ditoleransi perbedaannya). Terdapat dua buah aspek dalam dalam hal relibilitas ini yaitu, konsistensi yang berulang kali (atau stabilitas) dan konsistensi internal.

Konsistensi dari waktu ke waktu atau stabilitas maksudnya adalah satu instrumen yang diberikan kepada orang yang sama, dalam kondisi yang sama namun dalam waktu yang  berbeda akan memberikan hasil yang kurang lebih sama. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan adalah reliabel. Namun bila hasilnya jauh berbeda maka instrumen tersebut tidak layak digunakan karena tidak reliabel dalam mengukur. Stabilitas instrumen dari waktu ke waktu ini bisa diuji secara langsung dengan melakukan penggunaan instrumen dalam kondisi tertentu dalam waktu yang berbeda; hasilnya kemudian dibandingkan untuk melihat konsistensinya (test-retest realiability).

Sedangkan internal konsistensi tidak lain adalah mengukur konsistensi pada butir-butir yang terdapat dalam instrumen. Dalam satu instrumen untuk mengungkapkan ciri-sifat laten (latent traits) maka terdapat butir-butir (items) yang berupa pernyataan yang harus direspon oleh partisipan, reliabilitas internal mengukur bagaimana berbagai butir tersebut konsisten satu sama lain dan berada dalam satu arah yang sama. Hal ini tidak lain adalah konsistensi internal dari pengukuran instrumen. Berbagai teknik biasa digunakan untuk menguji relibilitas internal seperti metoda split-half, persamaan Kuder-Richardson, dan yang paling banyak diakai yaitu koefisien alfa (alpha cronbach).

2. Validitas

Konsep utama kedua dalam menentukan kualitas intrumen adalah validitas atau kesahan. Validitas instrumen secara singkatnya adalah pengukuran oleh instrumen yang mengukur apa yang seharusnya diukur. Hal ini bermakna bahwa instrumen yang digunakan mengukur sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, validitas yang terjadi karena secara empiris sesuai dengan konsep yang dimaksudkan untuk diukur. Berhubung terdapat sifat alami yang tersembunyi dari variabel yang akan kita teliti, akan selalu terdapat kesimpulan yang terjadi antara indikator yang diamati (yaitu respon partisipan terhadap butir-butir instrumen) dengan konsepsi yang kita ukur; maka validitas adalah tentang simpulan tersebut.  Sehingga dari aspek validitas akan selalu mempertanyakan seberapa logis kesimpulan yang dibuat dari indikator kepada konsep. Instrumen pengukuran atau prosedurnya sendiri tidak bisa disebut valid atau tidak valid; sehingga pertanyana validitas selalunya ditujukan kepada kesimpulan yang dibuat dari apa yang kita amati. Terdapat tiga jenis validitas yang harus jadi perhatian yaitu validitas isi (content validity), validitas konstruksi (construct validity) dan validitas kriteria terkait (criterion related validity).

Validitas isi berfokus kepada apakah keseluruhan definisi konseptual memang direpresentasikan dalam pengukuran. Definisi konseptual yang dimaksud adalah wadah yang mengikat semua ide dan konsep, dan indikator yang digunakan untuk mengukur haruslah berisi semua ide yang ada dalam defisini tersebut.  Terdapa dua tahapan yang harus dilakukan yaitu, pertama: menentukan isi definisi yang digunakan, dan kedua: mengembangkan indikator yang mencakup semua hal yang terdapat dalam definisi tersebut. Misalnya kita mau mengukur tentang kecerdasan, maka supaya yang diukur valid haruslah digunakan definisi yang bersifat komprehensif tentang kecerdasan. Kemudian kita mengembangkan instrumen yang mengukur semua aspek kecerdasan yang meliputi: logika, berpikir abstrak, pemahaman, kesadaran diri, komunikasi, belajar, perencanaan, pemecahan masalah dll. Dengan cara begini instrumen yang dibuat memang mempunyai validitas isi yang bagus.

Sedangkan validitas konstruksi menjelaskan seberapa baik pengukuran dengan ekspektasi teoritis. Maksudnya adalah, berbagai ukuran yan terdapat dalam berbagai konteks teoritis,  kesemuanya harus menunjukkan hubungan dengan konsep lain yang bisa diprediksi dan diinterpretasi dalam konteks tersebut.

Untuk validitas jenis terakhir adalah suatu indikator yang dibandingkan pengukuran lain dengan konsep yang sama dimana peneliti mempunyai kepercayaan terhadapnya. Terdapat dua jenis validitas ini yaitu validitas bandingan (concurrent validity) dan validitas ramalan (predictive validity).  Validitas bandingan maksudnya adalah variabel kriteria yang ada dalam saat ini, dan dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Sedangkan validitas ramalan, adalah variabel kriteria yang baru akan ada di masa depan. Contoh yang mudah adalah bila kita melakukan studi tentang prestasi seorang mahasiswa, konteks validitas bandingan adalah saat ini, maka pertanyaannya adalah,”berapakah IPK yang anda dapatkan tahun lalu?”; sedangkan untuk validitas ramalan karena konteksnya belum terjadi, pertanyaanya adalah, “berapakah kira-kira IPK yang akan anda peroleh tahun depan?”.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: