Rasch Model: Riset Kuantitatif

Home » Penelitian » Proses Pengukuran

Proses Pengukuran

Proses Pengukuran dalam riset kuantitatif adalah hal yang sangat esensial, dari sana lah angka didapatkan untuk diolah dan di analisis sehingga mendapatkan jawaban untuk pertanyaan risetnya. Tanpa pengukuran, maka tidak akan ada data didapatkan dan riset tidak akan berlanjut (kecuali mengubah pendekatan menjadi riset kualitatif). Proses pengukuran tidak lain adalah proses memasukkan angka kepada konsep sesuai dengan indikator yang telah dibuat dimana kontinum sudah ditetapkan. Biasanya kita mengatakan bisa ‘mengukur’ sesuatu yang tidak terlihat berdasarkan kesimpulan dari apa yang bisa diamati dengan mata secara langsung. Dalam ilmu pengetahuan sosial seperti psikologi dan pendidikan, pengukuran akan konsep yang ingin di ukur selalunya merupakan hal yang tidak kasat mata, atau sesuatu yang tersembunyi.  Misalnya dalam bidang pendidikan, konsep seperti kecerdasan, tidak lah dapat diukur dengah hanya mengandalkan tampilan luar; perlu alat ukur lain yang bisa megungkap dan mengukurnya serta menempatkannya dalam rentang yang disepakati.Dalam Pemodelan Rasch (Rasch Model), ide dasar dari proses pengukuran ini disebut dengan ciri sifat laten (latent traits) yang tidak lain merupakan konsep utama dari teori respon butir (item response theory).  Penjelasannya adalah, malaupun ciri sifat itu tidak bisa diamati, namun interaksinya dengan lingkungan akan memunculkan hal itu sebagai indikator yang bisa diobservasi, sehingga bisa digunakan untuk menyimpulkan keberadaan atau ketidakberadaam ciri sifat tadi, atau menempatkannya dalam satu kontinum. Dalam kerangka ini lah instrumen pengukuran dibuat menggunakan berbagai butiran (item) sebagai dasar untuk nantinya membuat simpulan tentang ciri sifat laten tersebut.

Untuk memudahkan penjelasan ini, kita ambil contoh misalnya tentang konsep harga diri (self esteem).  Walaupun ciri-ciri akan konsep harga diri ini mungkin bisa berdasarkan diobservasi, namun hasilnya bersifat subjektif dan kualitatif. Dalam konteks penelitian kuantitatif, maka hal ini harus terukur dan ditentukan dalam kontinum yang disepakati. Maka hal pertama dalam proses pengukuran untuk konsep harga diri ini adalah kita harus mendefinisikannya: harga diri bermakna orientasi positif atau negatif seseorang terhadap dirinya sendiri. Sesorang yang dengan harga yang tinggi mengganggap dirinya sangat berharga, namun bukanlah sebagai pribadi yang sombong, congkak, merasa hebat atau menghina orang lain; sedangkan harga diri yang rendah adalah seseorang yang ‘kurang menghargadi siri sendiri, menggagap dirinya tidak berharga, pribadi yang banyak kekurangan’.

Tahap berikutnya setelah mendefinisikan konsep harga diri adalah, menyeleksi indikator apa yang bisa memberikan representasi empiris terhadap konsep tersebut. Menyusun indikator bermakna mempertimbangkan pengukuran dalam konsep tersebut. Indikator-indikator yang dibuat adalah berbagai pernyataan tentang diri pribadi dan seseorang akan merespon pada berbagai indikator ini dengan menunjukkan persetujuan yang kuat, setuju, tidak setuju atau sangat tidak setuju.  Beberapa indikator ditulis dengan peryataan positif tentang diri sendiri, seperti: “secara keseluruhan, saya puas dengan diri saya sendiri”, Saya merasa saya mempunyai harga diri”. Sedangkan indikator lain berisi pernyataan yang bersifat negatif, “Saya merasa tidak mempunyai sesuatu yang bisa dibanggakan”, “Saya merasa saya harus lebih menghargai diri sendiri”.

Tahap selanjutnya adalah, mendapatkan informasi secara empiris, yaitu memberikannya pada partisipan untuk memberikan jawaban berdasar deretan pernyataan indikator tadi.  Peneliti bisa merancang bahwa pernyataan negatif dan positif untuk konsep ini sama banyak dan meminta partisipan untuk menilai kesesuainnya. Tahap akhir adalah melakukan evaluasi kesahan (validitas) berbagai indikator tadi dan mengujinya sejauh manakah  berbagai pernyataan sebagai indikator tersebut benar-benar merepresentasikan konsep harga diri secara emiris.

Hasil dari pengujian lapang bisa memberikan masukan yang berharga untuk merevisi indikator tadi; karena berbagai pernyataan yang dibuat sudah diuji secara empiris. Bagaimana membuatnya menghasilkan angka sebagaimana tuntutan riset kuantitatif? Maka langkah berikutnya adalah menggunakan teknik pengukuran tertentu yang akan diterapkan. Teknik pengukuran yang paling terkenal adalah Thurstone, Guttman dan Likert.  Masing-masing model mempunyai cara tersendiri untuk mengubah jawaban responden yang nantinya akan dikonversi menjadi angka. Yang paling populer adalah pemeringkatan Likert, dimana respon terhadap pernyataan diberikan pilihan jawaban seperti: sangat tidak setuju (STS), tidak setuju (TS), netral (N), setuju (S) dan sangat  setuju (SS). Kemudian jawaban nanti dikonversi menjadi angka yang disesuaikan dengan jenis pernyataan yang diberikan. Proses di atas menunjukkan bahwa kita membuat variabel justru ketika melakukan pengukuran, dan secara langsung juga melakukan antisipasi berbagai pertanyaan tentang validitasnya, termasuk didalamnya simpulan dari indikator kepada konsep itu sendiri.

Oleh karena itu proses pengukuran ciri sifat laten ini paling tidak ada tiga hal yang harus terpenuhi. Yang pertama adalah  definisi yang dirujuk akan konsep/ciri sifat dan memberikan spesifikasi berbagai indikator yang mana kita akan membuat simpulan bagaimana hubungan indikator tadi dengan ciri-sifat (ini juga berhubungan dengan validitas, yang akan dibahas di artikel berikutnya). Kedua, kita menggunakan berbagai indikator atau butir (item), dengan alasan makin banyak indikator maka kita mempunyai simpulan yang lebih baik yang bisa didapatkan. Tentu saja kita memerlukan untuk mengumpulkan respon secara keseluruhan  dari berbagai butir tadi untuk memperkuat simpulan yang akan diambil. Ketiga, butir yang berbeda-beda tersebut dapat dipertukarkan karena merupakan butir-butir yang setara bagusnya dalam menjelaskan  indikator untuk sifat ciri tadi.


4 Comments

  1. At glance, I like the articles you posed here. thanks

    • deceng says:

      Glad to hear that. Congratulation also, you are the first who give comments in this blog (anda akan mendapat hadiah hiburan berupa piring dengan gambar kartun yang unik, tapi ngak tahu kapan dikasihkannya, he he he).

  2. afifah says:

    hehe… bermanfaat sekali pak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: