Rasch Model: Riset Kuantitatif

Home » Penelitian » Disain Riset Kuantitatif

Disain Riset Kuantitatif

Menurut Punch (2009), riset kuantitatif dalam ilmu sosial seperti yang kita kenal sekarang ini dimulai pada 150 tahun yang lalu. Ilmuwan sosial saat itu, khususnya dalam bidang psikologi dan sosiologi, sangat terkesan dengan kemajuan yang dicapai dalam sains, yaitu kimia dan fisika, dan mencoba untuk menerapkan metoda ilmiah sains dalam ilmu-ilmu sosial untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Mereka melihat inti dari metoda ilmiah adalah dua hal utama: eksperimen dan pengukuran. Eksperimen tidak lain adalah kegiatan percobaan dimana ilmuwan melakukan manipulasi pada dua bahan yang sama dengan melakukan perlakuan secara berbeda pada satu bahan; perubahan yang terjadi pada kedua bahan tersebut dilakukan pengukuran secara teliti untuk melihat dampak dari perlakuan yang diberikan. Bagian ini akan menjelaskan berbagai disain riset kuantitatif yang biasa dilakukan ilmuwan  sosial dalam melakukan penelitiannya.

Eksperimen merupakan metoda yang sangat ampuh untuk mengatahui secara persis dampak dari perlakukan yang diberikan dalam sains. Misalnya terdapat informasi “baru” bahwa vitamin C dapat meningkatkan kesuburan pada tanaman; maka bila dilakukan pemberian Vit C dengan dosis tertentu pada tanaman secara reguler ternyata konon-nya menyebabkan tanaman tumbuh subur. Klaim seperti ini tidak menjadikan dengan sendirinya bahwa Vit C lah penyebabnya. Untuk mengujinya haruslah dibuat percobaan dimana terdapat dua kelompok (atau lebih) tanaman, satu kelompok disebut kelompok kontrol yang tidak mendapat perlakuan apapun, yang lainnya adalah kelompok perlakuan yang mendapat Vit C. Kedua kelompok tersebut dibuat sama keadaannya (manipulasi artifisial), yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Vit C pada tanaman (variabel bebas); yang nanti hasilnya diukur misal dalam hal tinggi pohon, banyaknya daun, volume buah yang dihasilkan dan lainnya (variabel terikat). Eksperimen dilihat sebagai dasar yang kuat untuk melihat adanya hubungan sebab-akibat yang terjadi antar variabel tersebut. Ilmuwan sosial periode awal banyak yang melakukan kegiatan penelitian dengan disain eksperimen dan pengukuran seperti ini.

Namun perkembangan riset dalam ilmu sosial pada era 1950-1960-an, penelitian kuantitatif meluaskan lingkup tidak hanya pada eksperimen saja, khususnya karena banyaknya keterbatasan yang dihadapi.  Walaupun ketepatan logisnya tidak dipertanyakan lagi, namun jenis disain riset ini mempunyai keterbatasan dari segi praktis dan etis. Munculah disain eksperimen lain dari penelitian kuantitatif ini yang disebut sebagai kuasi-eksperimen maupun yang non-eksperimen (survey-kuesioner), Di dunia  nyata perbedaan perlakuan juga bisa terjadi secara alami, misalnya karena adanya perbedaan lokasi, jender, etnis  atau perbedaan latar belakang sosial-ekonomi dari responden, sehingga memungkinan untuk melakukan perbandingan yang bisa diperhitungkan sesuai dengan pertanyaan riset yang diajukan. Karena kelompok pembanding ini tidak secara khusus dibuat seperri dalam jenis disain eksperimen, maka berbagai variabel yang terlibat  tidak dikontrol dalam disain kuasi-eksperimen maupun yang jenis survey-kuesioner; sehingga hal yang penting untuk melakukan analisis data yang sesuai untuk kondisi ini.

1. Disain Eksperimen

Ide dasar dari melakukan penelitian kuantitatif dengan jenis  disain eksperimen adalah dengan membandingkan hasil pengukuran dari dua kelompok.  Kedua kelompok memiliki sifat dan keadaan yang sama dan anggotanya ditempatkan secara acak di dua kelompok tersebut. Kelompok yang pertama diberi perlakuan (suatu manipulasi variabel) bebas, dan ini dinamakan kelompok eksperimen atau kelompok perlakukan. Kelompok yang lain diberi perlakukan berbeda atau tidak diberi perlakukan sama sekali dan biasa disebut kelompok kontrol. Dalam jangka waktu tertentu kemudian dilakukan pengukuran akan suatu hasil yang ditentukan dari masing-masing kelompok (variabel terikat). Tujuan sebenarnya adalah, bila kelompok perlakuan memperoleh hasil yang berbeda, maka itu disebabkan oleh perlakuan yang diberikan ke masing-masing kelompok tersebut. Dalam aktivitas perlakuan, kita pun menduga ada variabel lain yang kemungkinan akan berpengaruh terhadap hasil sehingga hal ini pun perlu dikendalikan, yang biasa disebut variabel kontrol.  Dalam diagram sederhana, disain eksperimen seperti gambar di bawah  ini:

variabel bebas  ——>  variabel kontrol  ————–> variabel terikat

secara singkatnya, disains eksperimen memiliki dua kriteria utama: 1) penempatan secara acak partisipan ke dalam kelompok yang akan diuji; 2) manipulasi satu atau lebih variabel bebas sesuai dengan tujuan riset.  Dengan cara ini peneliti akan yakin bahwa hasil yang didapat (baik sama atau berbeda) dari variabel terikat, memang hanya disumbangkan dari variabel bebas yang ada.

2. Kuasi Eksperimen

Dalam penelitian kuantitatif jenis kuasi eksperimen, perbandingan antar kelompok memungkinkan karena secara alami relatif terjadi kesamaan antar kelompok. Kesamaan yang terjadi antar kelompok tersebut sangat jelas dan nyata terlihat walaupun tidak dipersiapkan secara khusus oleh peneliti (tidak seperti disain eksperimen yang semua hal harus terkendali sepenuhnya). Dengan kata lain kelompok partisipan yang terlibat tidak dibuat secara khusus oleh peneliti, namun dia mempunyai kontrol untuk mengukur variabel terikat yang berhubungan dengan variabel bebas. Misalnya dalam satu daerah yang relatif warganya sama dipilih dua lokasi berbeda yang berjauhan, dimana lokasi pertama diberikan perlakuan dalam bentuk intervensi langsung tentang satu program, dan lokasi lainnya berjalan apa adanya. Pada saat pengukuran hasil riset yang terjadi, maka perbedaan hasil antara keduanya dalam pengelompokkan kondisi alami tadi, menunjukkan variabel terikat yang berdasar dari variabel bebas (program intervensi).

3. Non-eksperimen (survey-kuesioner)

Jenis terakhir dari penelitian disain kuantitatif, didasarkan adanya perbedaan secara alami (variasi) dari variabel bebas. Misalnya karena perbedaan jender, kelompok sosial ekonomi, etnis, lokasi dan lainnya, dimana perlakuan tidak dilakukan sama sekali, namun pengukuran variabel terikat dilakukan ke berbagai kelompok partisipan tadi. Dengan kata lain peneliti tidak mempunyai kendali apapun terhadap variabel bebas, namun dia masih bisa menentukan saat pengukuran variabel terikat pada kelompok partisipan sesuai dengan tujuan risetnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: